Headlines News :
Home » » Bergaya Cerita Silat

Bergaya Cerita Silat

Written By ariyanto file on Jumat, 08 Juni 2007 | 18.41

Oleh
Ariyanto

Biasanya, buku bisnis ditulis dengan gaya penulisan serius. Tapi tidak halnya dengan yang dilakukan Ari Satrio Wibowo. Kisah sukses Sukyatno Nugroho sebagai bos Es Teler 77 ditulis dengan gaya unik dan menarik. Sepak terjang dan kegigihan Sukyatno di dalam mengepakkan sayap bisnisnya hingga luar negeri dan memiliki ribuan karyawan itu ditulis dengan gaya jenaka.


Judul bukunya ’’18 Jurus Sakti Dewa Mabuk Membangun Bisnis’’. Sesuai namanya, di dalamnya terdapat 18 jurus sakti Sukyatno. Mulai bangkit dari kebangkrutan hingga berani melawan arus. ’’Ini merupakan buku bisnis pertama bergaya silat,’’ kata Sukyatno, pemilik buku bisnis bergaya cerita silat pertama di Indonesia.


 Ini merupakan gaya penulisan buku yang revolusioner, mendobrak pakem. Buku ini sangat berbeda dengan buku bisnis lainnya. Di Bab I Jurus Sakti Bangkit dari Kebangkrutan, misalnya. Sukyatno menceritakan pengalamannya dalam versi silat sebagai berikut: ’’Sebagai pendekar, menang dan kalah dalam pertarungan di dunia persilatan (baca: bisnis) itu perkara lumrah. Tetapi, kalau bertempur sekaligus menghadapi senjata rahasia yang beracun itu baru sekali saya alami.’’
Ngomong-ngomong, kapan sih istilah Dewa Mabuk tersebut muncul? Tak bisa disangkal istilah itu populer seiring serbuan film silat Mandarin di era 1970-an dan 1980-an. Sekitar 1978 bioskop-bioskop di Indonesia pernah memutar film Hongkong berjudul ’’Drunken Master’’ yang dimainkan bintang film silat baru Hongkong bernama Jacky Chen. Film ini merupakan sekuel dari film ’’Snake in the Eagle Shadow’’ yang disutradarai Yuen Wo Ping. Dalam kedua film itu Jacky Chen berperan sebagai tokoh pendekar Wong Fei Hong muda yang badung. Sering bikin ornar dan membuat pusing tujuh keliling ayahnya.
Karena itu, dia dititipkan kepada pamannya, pendekar silat yang dijuluki Pengemis So (diperankan Yuen Siu Tien). Selain jurus Ular yang mematikan, juga menguasai jurus Dewa Mabuk. Jurus ini dipraktikkannya sambil minum arak dalam botol kendi bundar yang selalu dibawa ke mana saja. Jurus ini sedemikian uniknya sehingga lawan yang tak mengetahuinya akan terkejut dan tidak menduga serangan ini. Sehingga, walaupun bisa bertahan dan menangkis, tetapi selalu tertipu gerakan yang unik itu. Film itulah yang menginspirasi Sukyatno menggunakan istilah Dewa Mabuk.
Sebagai pribadi, Sukyatno Nugroho ingin tampil dengan gayanya sendiri yang berbeda. Dia tak mau meniru sesuatu yang sudah dikerjakan orang lain. ’’Karena itu, buku ini pun tampil beda sebagai buku bisnis bergaya cerita silat,’’ kata Ari Satriyo Wibowo, pemrakarsa pembuatan buku bisnis bergaya cerita silat pertama di Indonesia itu.
Asal tahu saja, Sukyatno sesungguhnya tidak bisa silat atau kungfu. Tapi, dalam buku ini dia berlagak bak pendekar jagoan yang menguasai 18 jurus sakti atau jurus dewa mabuk. Sukyatno memang orang aneh. Untuk membuat sesuatu yang spektakuler tampaknya memang harus melalui cara-cara aneh atau cara tidak biasa. (*)

*Terbit di Indo Pos, 1 Mei 2007
Share this article :

2 komentar:

  1. Bung Ariyanto, terima kasih telah memuat tulisan tentang buku yang saya tulis di blog Anda. Silakan kunjungi blog saya http://arisat.blogspot.com dan tinggalkan komentar Anda.

    Salam,

    Ari Satriyo Wibowo
    www.execblogger.com

    BalasHapus
  2. Bung Satriyo, thanks telah mengunjungi blog saya. Moga kita bisa terus saling bertukar informasi.

    BalasHapus

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Pinggiran - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template