Headlines News :
Home » » Pers Harus Punya Bela Negara

Pers Harus Punya Bela Negara

Written By ariyanto file on Kamis, 20 September 2007 | 17.32

Oleh


Ariyanto




Indonesia menyimpan potensi wisata yang sangat besar. Sayangnya, hal itu kurang diikuti dengan promosi besar-besaran sebagaimana dilakukan negara lain. Media sendiri menyosialisasikan yang buruk-buruk tentang negaranya sehingga para wisatawan enggan berkunjung ke Indonesia. ’’Mestinya media harus punya bela negara,’’ ujar Menteri Budaya dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik dalam Workshop ’’Peningkatan Pemahaman Wartawan terhadap Tourism Satellite Account dan Visit Indonesia Year 2008’’ di Hotel Millennium.


Menpudpar mengemukakan, warga negara Indonesia, termasuk wartawan, harus mempunyai falsafah right or wrong is my country (benar atau salah adalah negara saya). Apa yang kurang dari negaranya jangan justru bahagia, apalagi membesar-besarkan hingga membuat para wisatawan enggan datang ke Indonesia. ’’Candi Borobudur ketika disebut-sebut tidak masuk tujuh keajaiban dunia heboh. Seolah-olah langit mau runtuh. Padahal ketika saya dialogkan dengan Unesco, ternyata itu hasil SMS. Inilah kekuatan SMS,’’ kata dia tersenyum.


Nah, di sinilah peranan media sangat besar di dalam mempromosikan wisata Indonesia. Bagaimana di abad itu nenek moyang kita bisa membuat sesuatu yang luar biasa. Borobudur tetap menjadi warisan menakjubkan (wonder herritage). Baik dari segi kesejarahan, arsitekturnya maupun human interior-nya. ’’Unesco mengatakan kalau Borobudur tinggal sebongkah sekalipun karena sesuatu hal, tetap menjadi wonder herritage,’’ tegas Menbudpar. Bahkan, lanjut dia, Bali tiag kali bertutut-turut hingga kini masih ditetapkan sebagai best island in the world (pulau terbaik di dunia). Menurut Dirjen Pemasaran Depbudpar Thamrin B Bachri, untuk menciptakan daya saing pariwisata Indonesia dalam peta persaingan di tingkat regional maupun internasional, pihaknya mencanangkan Visit Indonesia Year 2008.


Berbagai cara dilakukan. Salah satunya adalah memasang baliho atau logo Visit Indonesia Year 2008 di amsing-masing bandara, baik bandara internasional maupun daerah. ’’Paling tidak dengan logo ini bisa leluasa bergerak. Nanti kita pasang ke Garuda dan Lion Air,’’ jelas dia.


Sementara itu, mantan Menteri Kebudayaan Pariwisata I Gede Ardika mengatakan, kepariwisataan harus dijelaskan dengan kegiatan yang multidimensi, multisektir dan multidisiplin. Ada interdependensi, interaksi, dan intersektor antara Depbudpar dengan lembaga-lembaga lainnya. ’’Kepariwisataan ibarat bermain orkestra. Masing-masing harus memainkan peranannya. Supaya harmoni dan menghasilkan musik yang indah, perlu ada partitur atau not balok supaya indah,’’ kata dia mengibaratkan.


Begitu pula pariwisata. Harus ada sinkronisasi dengan lembaga lain. Jangan sampai satu mau ke barat, yang lain ke timur. ’’Karena itu diperlukan koordinasi yang bagus antarlembaga,’’ tutur dia. (*)

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Pinggiran - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template